• Mei 19, 2024

Amalan supaya Kebutuhannya Dibantu Allah SWT dan Bebas Kesusahan di Hari Kiamat

Kiamat adalah sebuah kepastian, walau tak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan waktu pasti terjadinya hari kehancuran itu. Bagi umat Islam, percaya hari akhir atau kiamat menjadi komponen dari aqidah dan adalah rukun iman kelima.

Diriwayatkan, segala makhluk bernyawa akan mati di hari kiamat. Tapi, kemudian mereka akan dibangkitkan berakhir malaikat Israfil meniup sangkakalanya untuk ketiga kalinya.

Berakhir dibangkitkan, mereka akan digiring ke Padang Mahsyar. Karenanya, sejak dibangkitkan itu manusia akan menghadapi pelbagai kesusahan di hari kiamat.

Seluruh orang panik dan kuatir dengan nasibnya. Mereka mencari pertolongan ke sana kemari.

Tapi, pertolongan Allah akan datang kepada yang dikehendaki-Nya. Mereka akan dibebaskan dari kesusahan.

Tidak cuma itu, amalan ini juga mahjong ways akan membuat kebutuhan seseorang juga dibantu oleh Allah SWT.

Segera, amalan apa yang dapat membuat seseorang terlepas dari kesusahan di hari kiamat?

Berguna bagi Orang Lain

Amalan hal yang demikian adalah berusaha menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Menginfokannya itu layak dengan sabda Rasulullah SAW.,

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Sebaik-bagus manusia adalah yang paling berguna bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a.. Dishahihkan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab: As-Silsilah Ash-Shahîhah)

Jika muallimin.sch.id, manfaat kita memberikan manfaatkan kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebagaimana firman Allah:

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ…
“Kesusahan kalian bertingkah bagus, sebenarnya kalian bertingkah bagus bagi diri kalian sendiri …” (QS al-Isrâ/ 17: 7), dan sabda Rasulullah saw:

… وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“… dan barangsiapa (yang bersedia) menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) menolong kebutuhannya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz III, hal. 168, hadits no. 2442 dan Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 18, hadits no. 6743 dari Abdullah bin Umar r.a)

Membebaskan Seorang Muslim dari Kesusahan Dunia

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.
“Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesusahan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesusahan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi terhina seorang muslim, maka Allah akan menutup terhinanya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba hal yang demikian menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu mesjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur\\’an, tapi mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang tertinggal amalnya, maka nasabnya tak juga meninggikannya.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 71, hadits no. 7028, dari Abu Hurairah r.a.)

Sebetulnya mengetahui manfaat “menjadi pribadi yang berguna”, pertanyaannya adalah: “bagaimana caranya supaya kita menjadi pribadi yang berguna?”Allah berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan saya tak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sebenarnya nafsu itu senantiasa menyuruh kepada kezaliman, selain nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Dia Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yûsuf/12: 53)

Suatu ketika, Hasan al-Bashri menyuruh sebagian muridnya untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Karenanya berkata, “Temuilah Tsabit al-Bunani dan pergilah kalian bersamanya.” Lalu, mereka mendatangi Tsabit yang rupanya sedang (melaksanakan) i’tikaf di mesjid.

Dan, Tsabit malahan meminta maaf, karena tak dapat pergi bersama mereka. Mereka malahan kembali lagi kepada Hasan dan memberitahukan tentang Tsabit.

Hasan berkata, “Katakanlah kepadanya, \\’Hai Tsabit, apa engkau tak tahu bahwa langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama muslim itu lebih bagus bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?\\’“ Kemudian, mereka kembali menemui Tsabit dan memperkenalkan apa yang dikatakan Hasan al-Bashri. Karenanya, Tsabit malahan meninggalkan i’tikafnya dan pergi bersama mereka untuk menolong orang yang memerlukan.

Banyak cara dapat dilakukan supaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. dengan menolong dalam wujud tenaga, memberikan bantuan dalam wujud materi, memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan muatan penderitaan, membayarkan utang, memberi makan, sampai menyisihkan waktu untuk menunggu tetangga yang sakit.