• Maret 17, 2024

Kesehatan Masyarakat sebagai Pilar Kemerdekaan Berkelanjutan

Perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia adalah sebuah episode heroik yang tercermin berasal dari perjuangan para pahlawan bangsa untuk capai kedaulatan. Selama kira-kira 3,5 abad, rakyat Indonesia hadapi penderitaan dan kesengsaraan berasal dari penjajah untuk mencukupi keperluan para penjajah. Namun, bersama dengan semangat tak kenal menyerah, para pahlawan berhasil mengukir jejak bersejarah lewat perjuangan di medan perang dalam merebut kemerdekaan.

Momentum 17 Agustus 1945 adalah tonggak perlu dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan. Perayaan ini bukan sekadar seremoni, namun sebuah peristiwa perlu untuk menjunjung dan mengenang perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan. Dalam konteks sejarah Indonesia, kata “merdeka” punyai arti yang mendalam sebagai lambang perjuangan dan kemauan untuk capai kedaulatan dan martabat bangsa. Esensi berasal spaceman dari kata “merdeka” melampaui arti harfiahnya tidak cuma sebagai pembebasan berasal dari penindasan atau penjajahan namun termasuk inspirasi mengenai kebebasan dalam segala segi kehidupan, terhitung merdeka berasal dari ancaman sakit dan penyakit ( 2016).

Kesehatan masyarakat punyai peran yang perlu dalam melindungi kemerdekaan konsisten suatu negara. Studi menyatakan bahwa masyarakat yang sehat condong lebih produktif (Sulistiarini, 2018). Hal ini mengindikasikan bahwa bersama dengan kondisi fisik dan mental yang baik, individu punyai kekuatan tahan tubuh yang kuat agar berkontribusi secara optimal dalam kesibukan yang positif.

Namun sayangnya, terhadap peringatan ke-78 tahun kemerdekaan Indonesia, negara ini masih hadapi tantangan besar dalam capai Capaian Indeks Keluarga Sehat (IKS) Nasional. IKS Nasional terhadap tahun 2022 cuma capai 0,22 mengindikasikan tingkat keluarga yang tidak sehat. Belum lagi berbagai kondisi penyakit yang masih menjadi kasus betul-betul bagi negara. Sebagai contoh penyakit tuberkulosis (TB). Laporan TB Dunia memasang Indonesia di peringkat ke dua dunia untuk kuantitas penderita TB tertinggi tahun 2021 (, 2022). Situasi ini dapat berdampak tidak baik terhadap mutu hidup pasien dan keluarga (Aggarwal, 2019).

Selain itu, salah satu yang masih menjadi perhatian utama terhitung adalah kasus stunting. Data menyatakan bahwa prevalensi stunting nasional capai 24,4%, melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 sebesar 14% (Kemenkes RI, 2021). Stunting merupakan suatu kondisi masalah pertumbuhan dan pertumbuhan anak yang mengundang dampak yang serius, seperti masalah pertumbuhan otak, pertumbuhan kognitif, masalah pertumbuhan fisik, masalah metobolisme dalam tubuh, menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, kekuatan tahan tubuh yang rendah agar anak gampang terserang penyakit (Putri et al., 2019; WHO, 2015). Kondisi ini secara tidak langsung menjadi tantangan bagi Bangsa ini dalam mengembangkan sumber kekuatan manusia yang berkualitas.

Kesehatan masyarakat yang kuat merupakan salah satu elemen utama pembangunan konsisten (Kementerian PPN/ Bappenas, 2021). Negara bersama dengan warganya yang sehat sanggup membuahkan sumber kekuatan manusia berkualitas, merangsang inovasi, dan hadapi tantangan bersama dengan lebih baik. Investasi kebugaran masyarakat adalah investasi era depan bagi sebuah negara. Ketika negara mengambil cara untuk mendorong pencegahan penyakit lewat vaksinasi, edukasi type hidup sehat, dan kontrol rutin, hal ini terhadap selanjutnya mengurangi beban ongkos perawatan medis di era depan.

Allender et al., (2014) menguraikan bahwa peningkatan kebugaran masyarakat sanggup dicapai lewat tiga level pencegahan yang saling melengkapi. Ketiga level ini membentuk fondasi strategis dalam meminimalkan risiko penyakit dan menaikkan mutu hidup masyarakat secara keseluruhan. Pertama, pencegahan primer. Level ini fokus untuk mengurangi bisa saja terjadinya penyakit atau masalah kebugaran secara umum. Upaya pencegahan primer berfokus terhadap edukasi masyarakat mengenai type hidup sehat, diet yang seimbang, olahraga rutin, dan imunisasi. Tujuannya adalah menjauhi munculnya segi risiko yang sanggup membawa dampak penyakit dan mempromosikan kebugaran secara menyeluruh.

Kedua, pencegahan sekunder. Level ini berfokus terhadap identifikasi dini dan deteksi penyakit atau masalah kebugaran terhadap step awal, sebelum saat tanda-tanda menjadi gawat atau komplikasi terjadi. Pencegahan sekunder melibatkan skrining kesehatan, tes medis rutin, dan deteksi dini penyakit tertentu seperti kanker atau penyakit jantung. Dengan mendeteksi kasus kebugaran lebih awal, intervensi yang lebih efektif sanggup dilakukan, dan kesempatan untuk penyembuhan lebih baik.

Ketiga, pencegahan tersier. Level ini berfokus terhadap manajemen dan perawatan penyakit yang udah terjadi, bersama dengan target menghambat komplikasi lebih lanjut, mengurangi dampak negatif, dan menaikkan mutu hidup pasien. Pencegahan tersier melibatkan pengobatan, rehabilitasi, pemberian psikososial, dan manajemen penyakit kronis. Dalam hal ini, fokusnya adalah menambahkan perawatan terbaik dan menopang individu mengelola kondisi kebugaran mereka secara optimal.

Kombinasi berasal dari ketiga level pencegahan ini membentuk pendekatan holistik dalam menaikkan kebugaran masyarakat. Dengan mengkombinasikan usaha pencegahan primer, sekunder, dan tersier, kita sanggup capai dampak yang lebih luas dalam mengurangi beban penyakit, menaikkan mutu hidup, dan membangun masyarakat yang lebih sehat secara keseluruhan. Secara keseluruhan, investasi dalam kebugaran masyarakat bukan cuma mengenai memastikan kesejahteraan individu, namun terhitung mengenai menciptakan fondasi yang kuat bagi kemajuan negara. Kebijakan kebugaran yang berfokus terhadap pencegahan, akses, dan edukasi tidak cuma menambahkan manfaat bagi individu saat ini, namun terhitung memperkuat era depan yang lebih konsisten dan produktif bagi negara.

Kesehatan masyarakat yang baik adalah basic bagi kemerdekaan berkelanjutan. Negara kudu mengetahui bahwa investasi dalam kebugaran bukan cuma investasi dalam kesejahteraan individu, namun terhitung investasi dalam era depan yang lebih kuat dan lebih baik. Dengan melindungi masyarakat yang sehat, negara dapat sanggup capai kemerdekaan yang konsisten dan hadapi tantangan era depan bersama dengan optimisme.